CENDAWAN PENDUNG

PUSAT PENGEMBANGAN, PEMBIBITAN & BUDIDAYA JAMUR EDIBLE

berkesenian berarti menuangkan pikiran kembali

Posted by Cendawan Pendung pada 12 April 2009


November 4, 2008 by berbudaya
http://berbudaya.wordpress.com/

Sudah cukup lama saya tidak pernah membicarakan kesenian, kebudayaan bahkan pikiran-pikiran yang selalu minta keluar untuk mendapat bantahan dari kawan-kawan. lebih jauh sudah cukup lama juga tidak lagi berkesenian, jikapun itu ada hanya mencoret-coret kertas iseng untuk menumpahkan rasa suntuk dan amarah yang sering kali datang, yang sulit untuk dibendung kecuali ada salurannya.

Berkesenian memang bukan hanya menjadi penyalur kemarahan semata apalagi kemarahan murahan terhadap kondisi karena tidak tahu harus berbuat apa, ah kasihan sekali otak dan tubuh atas ketidakmampuan ini. dengan sadar saya akui bahwa berkesenian merupakan aplikasi pikiran dan cara pandang terhadap kondisi dan juga laju gerak peradaban, dalam artian dengan berkesenian juga memperjelas peradaban seperti apa yang kita inginkan dan didalamnya terdapat banyak warna juga ideologi yang setiap hari hadir dalam kehidupan kita.

Lama tidak berkesenian secara jujur membuat saya sedikit gugup ketika ingin kembali mengaplikasi pikiran lewat media seni, mungkin seperti kata pepatah juga, “lancar kaji karena diulang”, inilah letak masalahnya saya tidak pernah lagi mengulanganya dalam rentang waktu lama, dan sekarang harus mengulangnya dalam bentuk kembali berkesenian bersama orang-orang yang sama sekali baru, kebaruan ini memang tidak sampai membuat saya kehilangan rasa percaya diri bahkan kadang ada rasa sombong yang melintas dalam pikiran bahwa mungkin ini bisa menyumbang untuk sisi lain peradaban, namun itu hanya pikiran nakal yang belum jinak, karena terlalu sering termenung di dalam bus kota Jakarta membawa saya dari satu sudut ke sudut di jakarta yang terus memberikan mimpi kepada semua orang yang hidup dan bergerak dalam aliran kota ini.

Kadang juga berpikir lebih baik berbuat sesuatu yang sederhana namun berguna, paling tidak untuk diri sendiri dengan maksud pekerjaan itu menjadi media pendewasaan dan sebisa mungkin menjadi media untuk mensistematiskan pikiran yang sering melompat-lompat tanpa mampu dikendalikan oleh tubuh, sekali lagi alangkah kasihan tubuh dan otak ini.

Berkesenian jilid dua ini merupakan pilihan yang harus dipertangung jawabkan, karena mau tidak mau akhirnya akan bersentuhan juga dengan sisi lain kebudayaan manusia yang bergerak bebas dan kendali hanya ada pada yang dominan, untuk hari ini tentunya dominasi itu dimiliki seniman yang telah memiliki nama besar dan orang luar kesenian yang memiliki modal besar untuk membuat kesenian menjadi sesuatu yang populer di tengah masyarakat namun telah mengesampingkan realitas yang setiap hari dijalani oleh kaum pinggiran atau kaum miskin dan akhirnya kesenian menajdi produk budaya yang tidak masuk akal bagi kaum miskin dan hanya dipakai untuk menjaga mimpi masa kecil.

Kesenian hari ini adalah kesenian populer yang lahir dari masa lalu namun mampu berganti baju atau mempersolek diri dan akhirnya tidak pernah terlihat tua. tentunya dengan rendah hati setiap manusia harus mengakuinya sebagai keberhasilan pemilik modal dan kreatifitas seniman yang mengabdi untuk modal tersebut. namun kesenian tidak hanya kesenian populer yang berubah haluan, diamana dahulunya kesenian populer lahir untuk mempermudah masyarakat menikmatinya dan sekarang dia hadir untuk menina bobokan (ini hanya asumsi saya saja). sebuah lompatan yang jauh dari dasarnya. kesenian populer telah meninggalkan kesenian yang seolah-olah berat jika berada di tangan para idealis dan kadang kala hanya orang yang benar-benar berbakatlah yang mampu menjadi bagianya. keterbantahan ini juga telah memberi ruang besar menganga untuk setiap orang masuk kedalamnya tanpa bakat besar atau banyak merenung namun bermodalkan keinginan (aku kembali teringat masa primitif ketika orang belum bicara bakat). ruang menganga ini tidak hanya untuk keinginan namun untuk juga seluruh masyarakat dari semua tingkatan kelas. setiap tingkatan kelas dalam masyarakat akan memiliki ciri dalam kesenianya sendiri dan akan mewakili kelasnya, walau tetap saling mempengaruhi, sekali lagi harus jujur saya katakan sampai hari ini yang paling banyak terpengaruh adalah kelas miskin. kelas miskin ini menjadi pasar paling besar dan kesenian populer telah membuat mereka menjadi masyarakat yang konsumtif dan ini tidak sepenuhnya kesalahan mereka jika terjadi dominasi budaya oleh kelas yang lain.

kesenian tidak jauh berbeda dengan politik dan bidang lain yang di dalamnya terdapat dua kata kunci selain saling menyatakan merekalah yang benar. kedua kata kunci tersebut adalah “menang” dan “kalah”. kedua kata kunci ini merupakan sebuah realitas yang harus dihadapi dengan segala daya upaya yang kadang kala pertarunganya tidak berimbang, namun tetap saja harus bertarung mencari kemenangan. kemenangan itulah petualangan yang setiap orang ingin mencobanya termasuk dalam ranah kesenian yang memberikan banyak ruang bertualang.

saya hanya salah satu petualang yang kembali ingin berada di hutan petualangan itu yang tentunya memiliki ambisi untuk menadapatkan sedikit lahan kemenangan. ambisi kecil ini sedang saya pupuk dengan pupuk kompos yang lama sekali reaksinya namun menjanjikan untuk terus hidup. semoga saja renungan petualangan dan pupuk kompos ini mampu menghasilkan tanaman yang subur dan juga sehat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: