CENDAWAN PENDUNG

PUSAT PENGEMBANGAN, PEMBIBITAN & BUDIDAYA JAMUR EDIBLE

Tiang dan Pasak

Posted by Cendawan Pendung pada 13 Maret 2009


Selasa, 10 Maret 2009 | 20:15 WIB
Di posting dari http://www.gong.tikar.or.id
Majalah gong edisi 107/X/2009

“Besar pasak daripada tiang,” peribahasa lama, suatu pernyataan kritis tertuju pada kondisi mana kala unsur tambahan, hiasan, atau sokongan, lebih besar ketimbang yang didukungnya. “Tiang” adalah pokok, “pasak” yang mendukung. Secara harafiah frasa itu mungkin awalnya ditujukan pada tukang kayu. Jika hasil kerjanya pasak lebih besar, berarti secara teknis ia buruk, ceroboh: ia telah membuat lubang pahatan terlalu besar. Yang ideal, sedemikian rupa diupayakan agar pasak sekecil mungkin, atau tak ada sama sekali.

Setelah jadi peribahasa, ia tertuju pada apa pun. Jika seorang kepala desa tidak terampil sehingga bawahannya harus lebih giat dan bertanggung jawab, peribahasa itu bisa dikenakan. Atau, jika ia lebih banyak bekerja dalam bidang lain, sehingga tugas pokoknya sebagai kepala desa menjadi sampingan, peribahasa itu pun mengena.

Dalam kesenian, tradisional, yang memiliki pakem lebih kuat, analogi “pokok” bisa mengenai dua hal, seperti pada misal kepala desa. Pertama, adalah pada pakem atau aturan-dasar. Untuk suatu lagu, umpamanya, melodi dasar atau balungan adalah “tiang,” dan hiasan atau variasinya adalah “pasak.” Yang kedua, pada fungsinya. Kesenian sebagai media ekspresi idealisme seniman itu adalah “tiang,” sementara fungsi lainnya—sebagai hiburan atau alat propaganda barang komersial dan politik—itu adalah “pasak.”
Benarkah setegas itu? Tampaknya tidak.

Sejak lama kesenian berperan ganda. Benar bahwa kesenian adalah produk seniman, sebagai hasil cipta-karyanya, berdasar pada keahliannya yang khas. Tapi juga benar bahwa kesenian tak pernah berdiri sendiri. Kita tahu, betapa besarnya peran kesenian dalam kegiatan spiritual keagamaan, seperti nyanyian atau tarian para dukun, pemanggilan roh nenek moyang, nyanyian di gereja, membaca Qur’an, dan lain-lain. Juga pada kegiatan lain, mulai dari tembang untuk Dewi Sri (padi), mengambil madu lebah, membajak sawah, mendayung sampan, sampai nyanyian menidurkan anak. Dengan itu, apakah kesenian akan dianggap “pasak”?

Masalahnya, mungkin, sejak lama kita mengikuti kolom-kolom kategori seni, yang berdasar pada disiplin seni-murni (fine arts) modernisme Barat: seni rupa, seni musik, seni tari, seni drama (teater), dan seni sastra. Masing-masing disiplin memiliki “tiang” atas dasar idiomnya: garis dan warna untuk seni rupa, bunyi untuk musik, gerak untuk tari, lakon untuk drama, dan bahasa untuk sastra—kemudian setelah lahir teknologinya, ada pula seni fotografi dan seni film yang idiomnya pun lain.

Sementara itu, jika kita lihat kesenian-kesenian yang menjadi “tradisi” di pelbagai wilayah-budaya, masing-masing bidang seni itu tidak juga berdiri sendiri. Dalam sandiwara (seperti bangsawan, mamanda, ketoprak, ludrug), umpamanya, hampir seluruh seni hadir.
Akan tetapi, ketika terjadi di mana suatu bidang seni yang seakan harus mengabdi pada bidang seni yang lain, di situ terjadi shock, keterkejutan yang tak nyaman. Jika musik, misalnya, lebih banyak berfungsi sebagai penguat tari, teater, seni rupa, atau arsitektur, ia mungkin dirasakan sebagai “seni guna,” atau abdi dalem. Ia dipandang “pasak.”
Namun demikian, kita ambil contoh, dari yang tak terlalu lama ke belakang: dalang Narto Sabdho. Pada tahun 1960-an, ia dihujat kaum intelektual budaya Jawa, sebagai dalang yang melanggar pakem (“tiang”), karena dagelan-nya (“pasak”) sangat menonjol. Yang melucu bukan hanya panakawan, melainkan juga tokoh-tokoh serius, seperti Kresna dan Baladewa, yang tak selaknya melucu.

Akan tetapi, di Jawa sekarang Ki Narto Sabdho tidak lagi dianggap dalang-perusak-pakem, melainkan sebaliknya, sebagai empu-kreatif. Jadi rumusan “tiang” dan “pasak” dalam suatu masyarakat bisa pula berubah.

Setiap perubahan menimbulkan krisis, di mana pun, sejak kapan pun, mengenai apa pun. Yang suka berbarengan dengan yang tidak: mungkin bergandengan, mungkin gontok-gontokan. Yang menjadi tantangan bagi kita sekarang adalah bagaimana, atau dengan cara apa menghadapi krisis perubahan itu. Kita perlu terlatih menghadapi kontroversi, menghadapi hal-hal paradoksal. Karena itu kontroversi bukan harus ditutupi, apalagi dibasmi dengan kekerasan, melainkan harus diketahui, dipelajari. Dengan itu kita diharap secara bijak, tidak tergesa dan ceroboh dalam mendefinisikan “tiang” ataupun “pasak.”

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: