CENDAWAN PENDUNG

PUSAT PENGEMBANGAN, PEMBIBITAN & BUDIDAYA JAMUR EDIBLE

Benturan-benturan Menuju Harmoni

Posted by Cendawan Pendung pada 13 Maret 2009


Oleh: I Wayan Sadra, Pengrajin bunyi dan dosen ISI Surakarta
Selasa, 10 Maret 2009 | 20:15 WIB
Di posting dari http://www.gong.tikar.or.id
Majalah gong edisi 107/X/2009

Sifat multi interpretatif pada musik memberi keleluasaan yang tak terbatas saat bersua dengan cabang seni-seni lainnya.

Hiruk pikuk persinggungan budaya barat-timur, barat-barat, atau timur dengan timur akhir-akhir ini telah melahirkan berbagai bentuk kolaborasi seni. Karya-karya dengan berbagai konsep, proses, estetik dan cara penyajiannya tersebut lahir begitu deras dan dipresentasikan di banyak tempat. Di pusat-pusat peradaban dunia seperti New York atau Paris dan kota-kota besar lain—dalam publikasi dan pendanaan bersekala global dan menggemparkan. Atau, secara diam-diam bergerilya di tempat terpencil pada lokus dunia ketiga yang sama sekali tak tertera dalam gambar peta lokal. Bentuk srawung seni ini (pinjam istilah Suprapto Suryodarmo) adalah atas inisiatip dan pendanaan pribadi-pribadi. Pada sisi lain, para lembaga donor kaliber dunia dengan bermurah hati mensubsidi gerakan multikulturalisme, pruralisme dan berbagai bentuk-bentuk penghargaan terhadap kebhinekaan ini. Maaf, di negara kita yang berlandaskan motto bhineka tunggal ika, justru pemerintahnya belum berpikir dan menyadari tentang proyek budaya lintas etnis atau suku-suku yang bertebaran di pelosok Nusantara ini, sehingga konflik adalah hal yang tetap rawan.
Kolaborasi di atas selalu akan meninggalkan bekas sebentuk kegembiraan, kepuasan sementara seniman. Tapi, selebihnya adalah luka pada kita, terutama dalam komunitas kolektif. Mayoritas proyek-proyek tersebut memposisikan kita pada subordinasi. Seniman dunia ketiga berlaku bak agen kultural yang tak lebih hanya menjadi obyek-obyek-pelaku. Juga, sebagai sasaran dari disiplin kajian multikulturalisme. Jika kita sanggup menjadi subyek, itu pun subyek pada lapis kedua dari strukur yang mengerucut dalam pengakuan dunia. Kita boleh setuju dan tak perlu menampik anggapan bahwa globalisasi bukanlah ancaman melainkan peluang. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: peluang yang bagaimana? Tidaklah peluang itu hanya kesempatan menjadi tenaga kerja alias TKI dari sebuah jargon baru “industri kreatif” yang dikuasai pemodal? Atau, hanya mampu mengakses pada pasar yang telah dibentuk oleh hegemoni teknologi? Proyek-proyek kolaborasi ini dalam lips servise-nya sering berbunyi win-win positions. Padahal, sesungguhnya tidak. Pada akhirnya, tetap saja bahwa kapitalisme akan menjadi pemenang dan menempati level dinasti teratas dalam kesadaran tentang persinggungan budaya tersebut.

***

Dalam proses-proses kolaboratif, tenggang waktu lama atau singkat, dalam memahami masing-masing perbedaan itu akan segera tampak adalah bentuk-bentuk respektif. Namun begitu, sering juga mencuat pertanyaan yang fundamental: apakah masing-masing pelaku telah memahami makna-makna budaya dan medium-medium yang digunakan oleh lawan kolaborasinya? Latar belakang kebudayaan, fungsi seninya? Atau, seambreg lagi pengetahuan yang harus dipahami dalam kerangka apresiatif dan menghargainya. Jika tidak, pekerjaan seniman di sini hanyalah sekadar membenturkan tafsir-tafsirnya terhadap suatu kerangka kerja yang disepakati, apakah dalam rangkaian panjang suatu pengadegan atau rangkaian yang pendek. Maka elemen-elemen artistik apakah dari musik, gerak, kata atau rupa akan mengalir dan muncul dengan presisi perasaan sepihak. Dalam artian, dipahami dan mampu dihayati dalam kapasitas tinggi dan mantap hanya oleh siapa yang melontarkan bentuk ekspresi budaya itu. Sementara itu rekanan kolaborasi menginterpretasikan menurut kemampuannya, yaitu: penangkapan sense, pengalaman latarbelakang kultur dan intelegensinya untuk memdapatkan suatu persepsi. Persepsi ini paling banter sedikit sama dengan apa yang dirasakan oleh pelontarnya, lebih dominannya adalah meleset atau tak tepat sama sekali dan jauh berbeda. Dalam wacana kritis, kondisi seperti ini boleh jadi amat diamini. Di jagat ini, kemampuan manusia dalam memandang suatu obyek atau subyek persoalan tidak akan bisa sama. Setiap kepala pada setting budaya yang sama adalah perbedaan, apalagi dalam pertemuan budaya yang berbeda sama sekali. Adalah mustahil bin tak mungkin kalau kolaborasi hanya ingin menjelajah pada persamaan saja dan menampik perbedaan-perbedaan. Yang paling gawat lagi adalah jika proyek-proyek kolaborasi (besar atau kecil) itu dilihat sebagai perhelatan yang berorientasi pada capaian hasil dan sama sekali mengabaikan makna, nilai-nilai dan fungsi dari proses sebagai bentuk pembelajaran bersama.
Sifat non representatif, multi interpretatif dari musik sesungguhnya lebih memberi keleluasaan yang tak terbatas dalam kaitannya dengan kolaborasi dengan cabang seni-seni lainnya. Pengalaman dalam membuat musik untuk seni pertunjukan seperti tari atau teater di antara sesama seniman lokal ataupun gabungan dari seniman-seniman manca justru modus membentur-benturkan medium-medium ekspresi dari masing-masing disiplin itulah yang sering terjadi. Jam session sebagai starting point dalam awal dari proses kolaboratif pada dasarnya adalah pancingan berupa lontaran-lontaran medium seni yang dipresentasikan oleh penari, aktor, ataupun pemusik. Lontaran tersebut dimaknai sebagai ice breaking, di mana kendala-kendala perbedaan medium atas bobot kultural yang melatari masing-masing peserta kolaborasi menjadi tereliminir dan menciptan suasana yang cair. Kondisi psikologi ini positif akan memberikan kesempatan kepada peserta-peserta dari berbagai perbedaan bahasa ungkap ini untuk mengadakan eksplorasi atau penjelajahan pada medium masing-masing, tranformasi medium karena ia harus mengelaborasinya dengan lawan mainnya.
Dalam pemahaman proses ini, sudah barang tentu keberadaan musik bisa jadi telah lahir terlebih dahulu. Lahir setelah kolaborasi teater dan tari selesai, atau musik ikut dalam proses pencaharian tersebut. Buat penulis, untuk musik yang sudah tersedia dalam bentuk komposisi jadi telah banyak diteladani oleh karya-karya lama dan baru. Contohnya model seperti ini telah dilakukan oleh kelahiran ballet Swan Lake yang memakai komposisi karya Tchaikovsky. Untuk pilihan yang kedua, di sinilah sering istilah iringan mencuat karena fungsi tersebut. Namun pada akhir-akhir ini, pada pakar seni pertunjukan di Indonesia umumnya telah sepakat merubah istilah tersebut menjadi musik (untuk) tari atau musik (untuk) teater. Alasannya, istilah iringan terlalu konotatif menempatkan musik sebagai buruh atau pekerja kasar. Juga karena ada alasan lain: demokratisasi antarmedium yang terlibat dalam suatu bentuk seni pertunjukan.
Pada bentuk keterlibatan musik yang mengalami proses bersamaan dengan medium-medium ekspresi lain, apakah dalam bentuk suara/bunyi, melodi, pola ritme, dinamik dan seambreg lagi partikel-partikel musik yang muncul dan memberi atmosfir kolaborasi itu, bagi aktor dan penari hal itu menjadi enerji yang mampu membangkitkan dramatisasi dan identifikasi tokoh dalam teater atau menjadi enerji ketika seorang penari kehilangan konsentrasi penghayatannya. Enerji-enerji yang dikeluarkan oleh alat-alat musik itu akan senantiasa liar dalam radius sense pendengaran dan sesekali menyentuh kulit dan pori-pori sang aktor dan penari. Peran musik pada sisi ini tidak mendominasi penghayatannya. Ia hanya sekali-kali datang namun mampu memberi spirit. Jika musik mengganggu penghayatannya maka ia akan membenturkannya dengan kua gerak yang kira-kira berlawanan dengan nuansa musik yang dihayatinya. Atau sebaliknya, ia akan melayani bunyi menjadi selaras dengan gerak.

***

Bentuk kerjasama yang melibatkan begitu banyak latar belakang seniman yang berbeda-beda sudah tentu adalah proses penciptaan yang berbeda dibanding dengan modus penciptaan pada wilayah tradisi. Pada tradisi, berbagai vocaboler dan bentuk ungkapan dapat dihayati dan diberikan makna dan nilai dalam situasi psikologi yang hampir sama. Sedangkan dalam percaturan kolaborasi yang penulis sebutkan di atas situasinya nyaris hiruk pikuk. Suatu proses dalam kerangka untuk memahami perbedaan-perbedaan. Sebab itu, ia bukan usaha-usaha blending atau mencari bentuk ungkapan-ungkapan yang sama dan sebobot, yang kemudian satu bentuk ungkapan seni dari suatu budaya harus dikalahkan. Realitas ini harus dimaklumi juga bahwa setiap individu akan merasakan sesuatu yang tidak sempurna telah terjadi dalam proyek kolaborasi itu. Ketidaksempurnaan itu hadir sebagai ganjalan-ganjalan bahwa begitu banyak adegan-adegan yang terasa tidak klop antara musik, tari, dan teater. Yang tampak hanya benturan-benturan berbagai medium-seperti apa yang dilakukan sutradara Ong Keng Seng dalam Search: Hamlet di Helsingor Castile Denmark di tahun 2002. Tapi ketika didesak dengan pertanyaan, ia menjawab: “Kita harus arif dan sabar untuk mampu menangkap harmoni di antara benturan-benturan dan kontras-kontras itu”. Seperti juga dalam musik bahwa dalam disonan dan kontrapung itu juga harmoni.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: