CENDAWAN PENDUNG

PUSAT PENGEMBANGAN, PEMBIBITAN & BUDIDAYA JAMUR EDIBLE

Film Indonesia, Suatu Ketika (Bagian Pertama)

Posted by Cendawan Pendung pada 10 Maret 2009


Sebuah Sosiologi yang Hilang
oleh Hikmat Darmawan
Di posting dari http://www.rumahfilm.org
Sungai Penuh, 9 MAret 2009

1
Pada 1983, terjadi sesuatu yang jarang saya temui lagi: saya sekeluarga menonton film Teguh Karya, Di Balik Kelambu, di Pasar Minggu Theatre. Kejadian ini unik di beberapa level.
Pertama, Di Balik Kelambu adalah film drama yang “dewasa” –film yang mengolah persoalan-persoalan orang dewasa, di mana inti persoalan adalah sulitnya pasangan muda tinggal di rumah mertua. Ketegangan-ketegangan yang terjadi, spiral konflik yang merumit, emosi-emosi yang tercuat, semua terasa sangat “Indonesiawi”. Padahal Teguh sendiri, sebagaimana biasa, membesut ragam soal rumah tangga ini dengan latar ilmu teater klasiknya. Ilmu teater yang ditranformasikan pada sebuah bahasa film yang menekankan pada akting dan tidak pada akrobat kamera atau editing. Dalam mazhab sinema ini, boleh dibilang kamera dan gambar diarahkan untuk melayani akting.
Kedua, Di Balik Kelambu adalah film pemenang FFI. Dilihat dari gaya pengolahannya, boleh dibilang film ini sebetulnya termasuk kategori arthouse movies atau film-film yang digarap dengan intensi seni. Nyatanya, film ini laris di pasaran. Fakta bahwa Ayah dan Ibu saya (yang bukan penggemar film) ingin sekali kami sekeluarga (bersama saya dan adik saya) menontonnya, menandakan bahwa film ini menarik perhatian masyarakat –seingat saya, bioskop waktu itu penuh sekali, dan banyak juga yang menonton seperti kami: sekeluarga, berbondong menyaksikan Slamet Rahardjo dan Christine Hakim di layar lebar menggeluti persoalan yang mungkin mirip dengan yang mereka alami juga di rumah.
Ketiga, berkait dengan kenyataan larisnya Di Balik Kelambu serta pengalaman saya menontonnya bersama keluarga, adanya sebuah latar sosiologis yang menarik bagi film Indonesia: film kita waktu itu rupanya masih merupakan tontonan keluarga. Di Balik Kelambu sebetulnya bukanlah film yang pas untuk saya saat itu. Saya masih SD, apalah pengertian saya terhadap nuansa persoalan rumah tangga: masalah himpitan ekonomi, tekanan sosial, atau impian punya rumah sendiri. (Bahwa toh saya kemudian menikmati juga film ini, itu soal lain.) Saya terlibat dengan film ini mulanya di luar kemauan saya. Keluarga batih saya –khususnya Ayah dan Ibu—butuh hiburan keluarga, dan mereka menganggap film ini bisa jadi pilihan, dan saya serta adik saya dibetot untuk menonton film ini.
Peristiwa kecil ini mencerminkan sebuah latar sosiologis karena berkelindan dengan berbagai variabel sosial dan jaring-jaring fakta sosial yang mengikat serta mengeratkan saya, keluarga saya, dan film Di Balik Kelambu.
Misalnya, acak saja, variabel institusi keluarga. Pada saat itu, pilihan keluarga untuk mengisi leisure time bersama rupanya bisa terpaut dengan film Indonesia. Cobalah tengok pola konsumsi saat itu: mal belum banyak dan belum “segala ada” seperti saat ini, sehingga para pengunjung belum terlalu terpilah-pilah berdasarkan demografi mereka; bioskop masih merupakan hiburan yang sangat ‘ajaib’ dan, lebih penting lagi, belum tersegmentasi menjadi tempat hiburan remaja; di sisi lain, hiburan-hiburan “isolatif” macam playstation, handphone, i-Pod, saluran kabel, DVD dan home theatre, belum melimpah –“hiburan bersama” masih jadi agenda penting bagi sebuah keluarga batih di Jakarta.
Di Balik Kelambu (juga film-film Indonesia yang laris pada masa itu –katakanlah pada masa sebelum deregulasi ekonomi Indonesia pada 1990) beruntung karena bisa jadi milik bersama berbagai lapis masyarakat penontonnya. Ia menjadi milik Ayah dan Ibu saya saat itu, milik para tetangga mereka, milik penonton dari berbagai lapis sosial dan ekonomi, dan akhirnya jadi milik saya juga yang masih bau kencur itu.
Perlahan, latar sosiologis seperti itu luruh dan buyar. Film Indonesia, secara umum, kini tak lagi jadi tontonan keluarga. Film-film laris masa kini, sebut saja Jelangkung, Ada Apa Dengan Cinta?, Eiffel …I’m In Love, atau Jomblo, adalah milik segmen pasar tertentu (remaja atau ABG). Kita harus memeriksa, apakah hal ini sesuatu yang positif atau negatif bagi perkembangan film nasional kita nantinya.
2
Sesungguhnya, segmentasi demikian terjadi juga di Amerika atau Jepang, juga di Eropa atau di Hong Kong (atau berbagai bagian lain dunia yang telah terkosmopolitanisasi). Gampangnya saja, kita lihat betapa genre adalah sebuah institusi kuat dalam industri film Hollywood. Genre adalah sebuah perwujudan segmentasi pasar tersebut. Termasuk, dalam kasus Amerika, pembedaan “film-film musim panas” (hiburan, untuk remaja) dan “film-film musim gugur/dingin” (lebih serius, opsi untuk anugerah Oscar dan lain-lain).
Malah, yang kini terjadi adalah segmentasi tahap lanjut, yakni fragmentasi. Dalam fragmentasi, bukan hanya terjadi pemilahan, terjadi juga kesalingasingan. Ini, tentu, mengimplikasikan eksklusi.
Sengaja atau tak sengaja, fragmentasi itu mengakibatkan mertua saya (terutama Mama), misalnya, beberapa tahun belakangan sering merasa tak nyaman di dalam lobi Studio 21 TIM. Tentu saja, kedua mertua saya membawa dunia sosiologisnya sendiri di bioskop itu –ayah mertua saya, misalnya, memakai batik untuk menonton. Bioskop 21, telah jadi milik nyaris eksklusif sebuah (atau beberapa, yang punya ciri berdekatan) dunia sosiologis yang sama sekali lain dari dunia mertua saya.
3
Soal menonton film bersama keluarga, saya pernah menyaksikan sesuatu yang aneh sekali pada paruh kedua 1990-an. Waktu itu saya sedang luntang-lantung di sebuah bioskop kelas tiga –saya lupa, apakah itu bioskop di Buaran atau sebuah bioskop di Cinere (waktu itu, saya memang sering sekali luntang-lantung di bioskop-bioskop kumuh macam itu). Waktu itu, sekitar pukul 8 malam. Saya menyaksikan sebuah keluarga batih, ayah-ibu-dan-seorang anak balita, menonton pertunjukan pukul 9-an, salah satu film panas lokal yang pada masa itu banyak diproduksi.
Saat itu saya tak habis pikir, kok bisa film panas bertema seks begitu jadi tontonan keluarga tersebut? Saya membayangkan si anak kecil menonton adegan-adegan panas (yang walau disensor ketat, tapi penuh dialog-dialog ngeres yang banal) di layar besar dalam kegelapan bioskop kumuh itu. Sebuah gejala sosiologis yang aneh.
Tentu saja, kalau saya bersikap ilmiah murni –tak diberati pertimbangan-pertimbangan moral apapun—maka saya tak perlu heran pada kejadian itu. Sosiologi hanyalah mencoba mencatat dan memahami. Fenomena sosial bukanlah soal genah-tak genah. Toh saya merasa gerah karena kejadian itu. Bukan karena alasan moral. Saya gerah, gundah, gelisah, karena samar menangkap sesuatu yang kemudian saya kenali sebagai kemiskinan sosiologis film kita.
Kejadian film panas sebagai tontonan keluarga lahir, antara lain, karena miskinnya pilihan dalam dunia film kita. Pada 1990-an itu, misalnya, berapa banyakkah film keluarga yang tersedia? Dengan mengambil sebuah premis sosiologis secara agak sembarang, saya melihat bahwa kemiskinan ini menimbulkan dislokasi sosial.
Dalam kemiskinan tontonan film Indonesia, keluarga di sebuah bioskop kumuh itu mengalami semacam “kiamat” fungsional berskala kecil. Mereka jadi serba salah[1], keliru tempat, ketika duduk di bioskop menonton film panas itu. Si lelaki saat itu mestinya sedang berfungsi sosial sebagai “Ayah”, si perempuan sebagai “Ibu”, dan si anak sebagai seseorang yang mestinya mendapat asupan tontonan yang sesuai bagi usianya. Tapi semua itu “terpaksa” buyar karena demikianlah dunia film kita saat itu, dengan segala infrastrukturnya (seperti sistem distribusi dan perbioskopannya) yang kacau.
Ini baru satu saja aspek kekacauan sosiologis film kita saat itu –di mana film panas dipandang sebagai sebagai sebuah fakta sosial di hadapan sebuah keluarga batih. Belum lagi jika kita bicara tentang materi filmnya sendiri, tentang “isi” film-film nasional kita saat itu. Tanpa usah bersikap marah-marah pun, kita bisa segera mengenali adanya gejala dislokasi, disfungsi, dan bahkan chaos sosial yang cukup umum dalam “isi” film-film kita pada masa itu.
Ambil contoh film-film panas 1990-an itu. Kita sepakati dulu bahwa “film panas” adalah film Indonesia yang mengangkat tema seksualitas dan berahi, menampilkan adegan-adegan seks yang cukup eksplisit (tak mungkin sepenuhnya eksplisit –mengingat gunting sensor kita untuk adegan-adegan “seksplisit” seperti frontal nude atau intercourse yang gamblang terbilang cukup ketat), dan dibintangi bintang-bintang (terutama perempuan) yang berani melakukan adegan-adegan “seksplisit” itu.
Nah, jika kita mengambil masa paruh akhir 1990-an saja, kita lihat bahwa film-film demikian sangat dominan dalam produksi film nasional[2]. Pada 1995, jumlah produksi film nasional 22 buah dan 18 di antaranya adalah film-film panas seperti Bebas Bercinta, Gairah Malam yang Kedua, Gairah Terlarang, atau Permainan Binal. Pada 1996, 34 film diproduksi dan 31 di antaranya film panas (6 menggunakan kata “Gairah” dalam judul mereka, 6 menggunakan kata “Sex”, dan 6 menggunakan kata “Nafsu”). Pada 1997, 32 film diproduksi dan 23 film panas.
Pada 1998, produksi film menurun drastis (dari angka yang sebetulnya juga sebuah penurunan dari masa produktif 1980-an) menjadi 4 film saja. Tak pelak, pastilah krisis moneter membuat para produser film kita “tiarap”. Lebih aman menggiatkan bermain di dunia sinetron TV daripada bikin film untuk bioskop. Dari 4 film, 3 di antaranya film seksplisit.
Sebetulnya, maraknya film-film panas sejenis telah terlihat tanda-tandanya sejak 1991-1992, mulanya mendompleng film-film genre horor atau silat. Film silat/mitis/sejarah Selir Adipati Gendra Sakti (1991), misalnya, menampilkan seorang perempuan tinggi yang berani buka-bukaan, Lela Anggraini. Konflik berpusat pada politik seks sang Selir. Konflik ini sesungguhnya memberi alasan bagi banyak adegan seks dalam film ini. Belakangan, Lela Anggraini memang jadi salah satu bintang panas generasi awal dekade 1990-an. Contoh lain, Kembalinya Si Janda Kembang (1992). Lagi-lagi, tekanan bukan pada horor yang jadi premis cerita film ini –konflik justru berpusat pada masalah seks, dan itu lagi-lagi jadi alasan bagi unjuk “keberanian” Sally Marcelina (lagi-lagi bintang ‘berani’ untuk dekade 1990-an).
Pada 1993, tema-tema erotik jadi semakin mencuat. Cerita-cerita film macam Akibat Hamil Muda (bintang: Sally Marcelina, Windy Chindyana), Gairah Malam (bintang: Malvin Shayna), Ranjang yang Ternoda (bintang: Inneke Kosherawati), atau Misteri di Malam Pengantin (bintang: Kiki Fatmala, Yohana Alexandra) berlatar tokoh-tokoh urban yang menempatkan seks sebagai masalah utama mereka. Film-film ini boleh dibilang turunan langsung dari film Bernafas Dalam Lumpur (1970, sutradara: Turino Djunaidy, pemain: Suzanna) yang disebut JB. Kristanto sebagai “(F)ilm Indonesia pertama yang menonjolkan seks, perkosaan, dan dialog-dialog kasar”[3]. Pada 1994-1995, tema-tema erotik menjadi dominan dalam perfilman Indonesia. Lebih dari film-film horor/mistis berbintang Suzana pada 1990-an yang menempatkan seks sebagai bumbu, film-film panas Indonesia 1990-an menempatkan seks sebagai sajian utama.
Tapi, masalah siapakah seks seperti tergambar dalam film-film panas tersebut? Film-film panas itu tak peduli pada pertanyaan tersebut. Mereka mendefinisikan penonton mereka sendiri. Definisi yang mungkin naif, eksploitatif, tapi sempat menjadi sebuah fakta sosial film nasional kita. Film-film itu mendefinisikan Sang Penonton film kita sebagai vulgar, tak keberatan dengan adegan-adegan buruk, fotografi buruk, atau dialog-dialog buruk.
Bersambung
Catatan belakang
[1] Di sini, saya tidak sedang bicara “sikap serba salah” pada keluarga tersebut, seolah itu sesuatu yang memang dirasakan oleh keluarga tersebut. Soal perasaan, saya tak tahu. Saya bicara (sebagai pengamat tak terlibat) tentang kekacauan fungsi sosial yang lazim dalam sebuah masyarakat modern –yang punya harapan-harapan sosial yang jelas bagi fungsi-fungsi dasar macam “Ayah”, “Ibu”, atau “Anak”.
[2] Data-data ini saya ambil dari JB Kristanto, Katalog Film Indonesia 1926-2005, Penerbit Nalar, 2005.
[3] JB. Kristanto, idem, halaman 76.
Penulis adalah redaktur rumahfilm.org. Lebih dikenal sebagai pengamat komik, mengawali karir menulis dengan mengamati berbagai segi budaya populer, buku, dan film. Tinggal di Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: