CENDAWAN PENDUNG

PUSAT PENGEMBANGAN, PEMBIBITAN & BUDIDAYA JAMUR EDIBLE

Che, Castro, dan Evo Morales Inspirator Revolusi Sinema

Posted by Cendawan Pendung pada 10 Maret 2009


Written by Suara Pembaruan
Di posting dari http://trimarsantofilms.com
Sungai Penuh, 9 MAret 2009

Sineas Walter Salles, sempat membuat dunia terkejut beberapa tahun lalu. Ia mengemas sebuah karya yang lantas diapresiasi di kompetisi Cannes Film Festival, dengan film berjudul The Motorcycle Diaries. Sebuah film yang berangkat dari kisah nyata petualangan politik dan cinta dari Ernestto Che Guevara dan Alberto Granado. Film tersebut tak banyak memperoleh penghargaan. Namun yang pasti, mata dunia terbuka pada wajah revolusi Amerika Latin berkat film itu. Film itu bahkan mengilhami banyak sineas dunia untuk mengerjakan jejak sosok revolusioner yang ada di setiap negara.

Lantas, seperti apa sesungguhnya wajah revolusioner Amerika Latin dalam karya film? Pertanyaan ini setidaknya terjawab ketika penulis mengunjungi 24th Miami International Film Festival, di Miami Florida Amerika belum lama ini. Wajah Amerika Latin terasa dominan dalam festival itu. Film-film Amerika Latin dengan sendirinya memasuki jantung dunia film, Hollywood. Revolusi itu dimulai dari pantai Selatan Amerika Serikat. Lebih dari 100 film dipertontonkan. Lebih dari 70.000 penonton, produser, profesional film dan distributor ambil bagian di dalamnya.

24th Miami International Film Festival, tak ubahnya jejak revolusi sinema. Gerakan revolusi itu dimulai, dengan menampilkan beragam jenis film yang sama sekali tak pernah dijumpai dalam kamus besar industri Hollywood. Upaya mendekonstruksi Hollywood pun terjadi.

Jangan lupa, 24th Miami International Film Festival merupakan festival film yang cukup prestisius. Hal ini terbukti dari kategori kompetisi yang mereka bentuk. Ada kategori Dramatic Feature World Cinema Competition, Ibero American Cinema Competition, Documentary World-Ibero Cinema Competition, dan World-Ibero American Cinema Competition.

Jangan kaget pula jika dari Negara dunia ketiga tema-tema marjinal, menjadi menu utama. Kreativitas mencipta bukan lagi pada kategorisasi industri film skala besar. Pilihan tema yang unik, kuat, mampu menginspirasi banyak orang, justru banyak dipertontonkan. Pencapaian yang dilakukan bukan dari bagaimana sineas dapat menghabiskan uang ratusan juta US Dollar. Atau berpromosi film layaknya menjual, memasarkan tisu kamar mandi. Justru semangat itu tak dijumpai. Segenap keterbatasan, justru menjadi sebuah triggering factor untuk merayakan revolusi.

Maka, film-film yang masuk dalam kompetisi adalah film dari negara Kuba, Paraguay, Brazil, Argentina, Brasil, Meksiko, dan Uruguay. Dari Asia, hanya diwakili tiga negara, yakni India, Japan dan Indonesia. Sementara dari Eropa, ada karya-karya sutradara Polandia, German, Spanyol, Prancis, Belgia, Skotlandia dan Swedia namun masih menyangkut isu-isu sensitif negara dunia ketiga. Sebuah tema yang sama sekali sulit untuk dijumpai dari industri film besar.

Ada beberapa ciri film-film dari Amerika Latin.

Pertama, menyangkut keterbatasan dana. Mayoritas film yang mereka produksi adalah film dengan system grant. Mencari donator yang tidak mengikat dan mengatur. Pinjaman dalam membuat film didapat dengan cara menjual proses produksi film itu sendiri. Misalnya, mereka mau menerima grant untuk sekadar membuat, mematangkan script ataupun memperdalam visual riset film. Ada yang meminta dana dari banyak founding khusus untuk mendanai proses produksi lapangan, atau sampai pascaproduksi.

Sangat masuk akal, jika keterbatasan ini memaksa sineasnya baru bisa menyelesaikan sebuah film dalam waktu empat hingga sembilan tahun.

Sineasnya terkadang tak mau ambil pusing kapan filmnya selesai. Mereka semangat mengumpulkan dana dengan jalan mengerjakan proyek komersil yang lantas penghasilanya dipakai menutup kekurangan biaya produksi.

Kedua, pola distribusi yang memang masih menggunakan cara-cara bergerilya. Maaf, mayoritas film yang masuk dalam festival, tidak mempunyai jalur distribusi yang menggurita.

Semangat Pemberontakan

Amerika Latin, ketika divisualkan mempunyai ciri sensualitas yang khas. Baik itu secara tematik, ataupun dimensi artistiknya. Beberapa film memang mencoba menghadirkan sebuah suasana yang revolusioner. Film Cocalero misalnya. Film yang disutradarai oleh Alejandro Landes, dari Bolivia ini, secara utuh memotret apa yang dilakukan oleh Evo Morales ketika masih kampanye mencalonkan diri menjadi presiden, sampai pada kemenangannya.

Two Homeland Cuba and The Nights karya Christian Lefter, juga menghadirkan kebijakan pemerintahan Kuba terhadap gay dan transeksual. Sekalipun film ini terasa menjemukan, penonton seolah diajak bertamasya ke negeri Fidel Castro. Castro sebagai ikon perlawanan, ternyata menjadi satu inspirasi bagi pembuatan film ini. Bahkan sosok revolusioner Amerika Latin, juga dengan mudah dijumpai dari film-film seperti The Railroad Allstar dari Guetemala, karya Chema Rodriguez, The Dog Pound karya Nieto Zas dari Uruguay, The 12 Labour dari sutradara Ricardo Ellias.

Pilihan tema-tema sensitif juga begitu transparan hadir di sini. Misalnya, dari kategori Documentary World-Ibero Cinema Competition, kita dapat melihat pahitnya menjadi seorang pemenang, dalam film Septeimbers, karta Carles Bosch, yang akhirnya memperoleh penghargaan Special Jury Prize. Dalam film dokumenter panjang ini, dikisahkan sebuah kompetisi menyanyi antarnarapidana, layaknya Indonesian Idol atau American Idol. Perbedaannya terletak pada suasana pengambilan gambar. Film itu penuh dengan suasana penjara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: